Rasa Ibaku Kepada Wanita Yang Terlilit Hutang Berbuah Kenikmatan 1

itil benefits
Cerita Seks Terbaru, Cerita Dewasa Hot, Cerita Mesum Seru - Setelah sebelumnya ada cerita seks bergambar Keenakan Jahil Dengan Teman Sekelas, kini ada cerita dewasa terbaru Rasa Ibaku Kepada Wanita Yang Terlilit Hutang Berbuah Kenikmatan 1, selamat membaca.

Rasa Ibaku Kepada Wanita Yang Terlilit Hutang Berbuah Kenikmatan 1

Dalam perjalananku kembali ke Denpasar, aku kesulitan menemukan bus yang berangkat malam. Setelah diyakinkan oleh agen bus yang biasa aku naiki, aku terpaksa menginap di terminal untuk mendapatkan bus yang berangkat besok pagi pukul 9-an. Aku bentangkan matras karet yang aku bawa, sambil tiduran aku gunakan tas ranselku untuk sandaran kepala.


Aku bukan terganggu oleh kotornya lantai ruangan tunggu di terminal itu tapi suara nyamuk yang seakan-akan mengejekku yang tidur di lantai terminal yang kotor ini, sungguh menjengkelkan. Berulang kali aku mesti kibaskan tangan untuk mengusir. Dalam perjalananku mendaki gunung, aku sebenarnya biasa bawa deodoran anti nyamuk. Beberapa teman baru yang aku temui di areal kaki gunung  sebelum mendaki, berebutan meminta deodoran anti nyamukku. Karena wangi dan terasa nyaman di kulit. Aku tersenyum sendiri terbayang mereka yang berebut. Lucu juga, batinku.


Kukeluarkan telpon genggamku membaca lagi beberapa sms dari mereka setelah kami turun gunung dan bertukar nomor telpon. Kapan kita mendaki Semeru lagi bro, aku baca dalam hati. Thanks untuk rotinya, bro. Aku ke Bali, boleh numpang di kost kamu, bro? Aku baca ulang-ulang sambil senyum-senyum. Hmmmmmm…sayang aku gak ketemu pendaki cewek, gumamku.


Telpon aku masukkan ke saku celana dan aku mulai meluruskan kaki untuk peregangan otot. Terasa capek di bagian betisku. Aku mesti pijet nih nanti nyampe di Denpasar, batinku. Kulihat jam tanganku. Pukul 11-an malam. Pantesan ngantuk banget, gumamku lagi. Perlahan-lahan mataku mulai menutup dan aku hanya mendengar suara hiruk-pikuk kendaraan yang lewat di depan terminal.

Di antara alam sadar dan bawah sadarku, aku dikejutkan dengan suara jeritan seorang wanita. Wanita tersebut menjerit minta tolong.


Aku terbangun, duduk dan mencari asal suara. Aku melihat seorang wanita yang dipukuli oleh tiga orang laki-laki. Wanita itu terjatuh, rambutnya langsung ditarik oleh satu satu laki-laki itu untuk menyuruhnya berdiri. Sementara dua laki-laki lain bergantian menampar pipi dan kepalanya. Kulihat ada beberapa orang yang menonton tapi mereka tidak berbuat apa-apa.

Karena geram dengan perlakuan ketiga laki-laki terhadap si wanita yang sedang tersungkur jatuh itu, aku langsung berdiri dan mendekati mereka. Aku langsung melerai memisahkan wanita itu dari mereka.


“Mas, mas…sabar, mas. Sabar, mas” kataku sambil tanganku menghalangi mereka memukul dan menampar lagi.

“Hei, siapa kamu?” bentak salah satu dari laki-laki itu.

“Hei, mau cari mati ya?” bentak satunya lagi.


Aku perhatikan laki-laki yang pertama membentakku. Bertubuh lebih pendek daripada tinggi badanku tapi sedikit gemuk. Aku perhatikan juga laki-laki yang kedua membentakku. Rambutnya panjang tapi awut-awutan. Sementara laki-laki yang ketiga hanya berdiri tapi memandangku dengan sorot mata yang menyeramkan. Tangan mereka semua mengepal dan dalam sikap siap berkelahi. Aku berusaha tenang. Aku tetap tersenyum.


“Sabar, mas. Kasihan mbaknya dipukul sampe jatuh-jatuh gitu” kataku kalem.

Tapi aku siapkan kewaspadaanku dengan semua kemungkinan yang akan terjadi. Aku berdiri dengan tanganku menghalangi mereka memukuli wanita itu lagi sambil sedikit kurenggangkan kakiku. Aku melihat setiap pergerakan mereka.


“Hiiiaaaa…!” salah satu dari mereka tiba-tiba bergerak cepat hendak memukul kepalaku, dengan menunduk, kuputar badan dan kutendang betisnya dengan kuat. Satu jatuh.

“Aaaah..nyari mati anak ini rupanya…!” seseorang dari antara mereka berteriak lalu seorang lagi tiba-tiba menendang dengan cepat ke arah kepalaku. Dengan sigap aku tangkap kakinya dan sambil berdiri, aku putar badanku sambil memukul ke arah rusuknya. Dua jatuh.


Aku sedikit mundur sambil memperhatikan keadaan wanita itu. Lalu dengan isyarat tanganku, aku meminta laki-laki yang seorang lagi untuk menghentikan tindakannya. Kulihat dia mengeluarkan pisau belati dari balik pinggangnya.


“Sabar, mas. Hati-hati dengan pisaunya. Sabar, mas” kataku menenangkan dia.


Kulihat teman-temannya yang lain sedang meringis kesakitan terkapar di tanah sambil memegangi bagian tubuh mereka yang aku serang. Aku mempersiapkan kakiku untuk menendang saat laki-laki yang membawa pisau itu akan menyerang. Kuda-kuda siap menhadapi serangan, dengan tanganku yang terkepal, saat laki-laki itu maju menyerangku, aku menghindar sambil menepis sementara satu tanganku langsung memukul wajah laki-laki itu. Tiga jatuh.


Cepat-cepat aku tarik tangan wanita tadi untuk berdiri dan kubereskan barang-barangku. Kami berdua langsung berlari meninggalkan mereka bertiga yang masih terkapar kesakitan. Orang-orang yang melihatku menghajar ketiga orang laki-laki itu, langsung menyingkir dan membiarkan kami pergi.

“Ayo, mbak. Cepat-cepat, mbak” kataku sambil menarik tangannya. Kami langsung berlari keluar terminal.


Pada saat aku sedang bersiap-siap menghadapi serangan mereka tadi, aku kerahkan tenaga dalamku ke tangan dan kaki. Sehingga pada saat tangan dan kakiku mengenai tubuh mereka, berarti serangan yang fatal mereka terima. Mungkin tulang rusuk yang retak atau tulang kaki yang retak. Atau mungkin tulang pipi yang retak. Mereka akan terkapar untuk sekitar 30-an menit. Ada waktu untuk kami berlari jauh.


Setelah agak jauh dari terminal, aku hentikan angkot yang melintas. Kami langsung masuk dan menenangkan diri. Wanita tadi duduk agak jauh di sampingku. Di dalam angkot kami terdiam tanpa bicara. Aku menoleh memperhatikan wajah wanita itu. Dia kalihatan sangat ketakutan. Wajahnya yang pucat terlihat terluka di pipi, bibir dan hidung. Rambutnya kusut. Kakinya kotor tanpa alas kaki. Di lututnya aku lihat darah mengalir. Ada luka di lututnya. Angkot ternyata tidak melewati terminal sehingga aku lebih lega.


Aku biarkan dia duduk terdiam. Tapi aku perhatikan wajahnya dengan seksama. Lumayan cantik rupanya, batinku. Penumpang angkot di baris depan hanya satu orang. Di depan kami kosong. Sementara kami berdua duduk di baris belakang. Aku lambaikan tanganku memanggil wanita itu.


“Duduk dekat sini, mbak. Aku mau nanya” kataku.

Wanita itu duduk beringsut ke arahku. Wajahnya masih keliatan sangat ketakutan.

“Jangan takut, mbak. Mbak aman sekarang” kataku lagi sambil memperhatikan luka di wajah dan lututnya.

“Mas siapa?” tanyanya.

“Mbak sendiri siapa? Ada masalah apa tadi sampai dipukuli begitu?” tanyaku.

“Kita mau kemana, mas”? tanyanya lagi sambil memperhatikan jalan yang dilewati angkot yang kami tumpangi.

“Kita cari tempat beristirahat dulu ya. Baru nanti kita ngobrol banyak” kataku berusaha mengerti yang sedang dipikirkan oleh wanita itu.


Aku kurang begitu mengenal kota ini walau sebenarnya aku sudah beberapa kali datang ke sini untuk mendaki gunung. Sambil juga memperhatikan jalan yang kami lalui, aku perhatikan apakah ada hotel atau penginapan yang dapat kami tinggali untuk malam ini. Lalu mataku menangkap sebuah plank nama hotel, cepat-cepat aku beritahu sopir untuk menghentikan kendaraan. Setelah membayar, kami masuk ke dalam hotel dan mendaftar untuk menginap. Satu kamar single agar lebih murah. Sambil menunggu kamar dipersiapkan, aku ajak wanita tadi untuk memesan makanan dan minuman di restoran hotel. Aku mintakan untuk dibawa kekamar dan nanti akan kubayar.


Kami dapat kamar yang lumayan bagus. Ada AC dan air hangat. Tempat tidur spring-bed ukuran queen size single dengan TV dan kulkas. Aku letakkan barang-barangku di dekat meja. Aku hidupkan TV, sambil duduk menonton, aku hisap rokok dalam-dalam. Sepintas mataku melihat wanita yang ikut denganku terbaring di ranjang.


Telentang dengan kaki yang terjuntai ke ranjang. Terdengar suara ketukan di pintu, aku beranjak ke arah pintu. Setelah memastikan dari lubang pintu bahwa staf hotel yang datang membawa makan dan minuman pesananku beserta handuk dan perlengkapan mandi, aku buka pintu. Setelah membayar, aku bawa pesananku dan kuletakkan di atas meja. Iba hatiku memperhatikan wanita itu. Ia tertidur dengan nafas yang berat. Aku lihat luka di lututnya. Cukup besar lukanya. Lalu luka yang di wajah juga lumayan parah kulihat. Kakinya kotor berdebu.


“Mbak, silahkan mandi dulu. Makanan udah datang. Nanti kita makan sama-sama” kataku pelan sambil menepuk lengannya.

Tubuhnnya bergerak perlahan. Dikucek-kucek matanya lalu duduk. Ia memandang sekeliling. Makanan dan minuman di atas meja lalu handuk hotel.

“Ayo, mbak. Mbak mandi dulu” kataku lagi.


Pada waktu ia berdiri, tiba-tiba ia mau jatuh, cepat-cepat aku tangkap tangannya. Aku peluk dan kuangkat ke atas tempat tidur. Kualasi kepalanya dengan bantal. Ternyata wanita itu pingsan. Lalu aku telpon resepsionis untuk menanyakan obat-obatan luka. Syukurlah resepsionisnya begitu ramah. Ia akan menyuruh staf yang lain untuk mengantarkan ke kamarku tanpa banyak pertanyaan lagi. Setelah obat-obatan diantarkan, sambil duduk di samping wanita yang sampai saat itu aku belum tahu siapa namanya, aku bersihkan darah kering di bibirnya.


Aku lihat ada memar dan goresan di dahi dan pipi. Aku bersihkan dengan kapas yang aku basahi dengan obat pembersih luka. Ada juga luka di telapak tangan dan siku. Setelah aku bersihkan luka di wajah dan tangannya, aku oleskan salep luka. Lalu luka di lututnya juga aku bersihkan dan aku oleskan salep luka. Aku ambil teko air, aku isi dan dengan handuk hotel yang ujungnya sudah aku basahkan dengan air teko, aku bersihkan kakinya. Setelah selesai, aku luruskan kaki dan tubuhnya. Aku selimuti.


Aku tidak terlalu memperhatikan pahanya yang putih mulus sewaktu rok yang ia pakai aku singkapkan. Aku singkap roknya untuk memudahkanku membersihkan luka di lututnya. Kakinya juga kotor. Aku basuh mulai dari pangkal paha sampai ke telapak kaki. Aku lihat pahanya yang padat, kulit pahanya yang putih bersih. Setelah selesai, aku rapikan lagi pakaianny dan kemudian aku bergegas ke kamar mandi.

Selesai mandi, aku lihat wanita itu sedang duduk di tempat tidur sambil memegangi kepalanya.



“Pusing, mbak?” tanyaku sambil duduk di dekatnya.

“Iya. Kepalaku sakit sekali” jawabnya.

“Kita makan dulu ya. Mungkin mbak belum makan makanya pusing. Apalagi tadi mbak kan dipukuli orang-orang itu” jelasku.


Aku berdiri, berjalan ke arah meja mengambil makanan yang tadi kami pesan. Aku berikan makanan yang dia pesan. Aku dekatkan kursi ke tempat tidur dan kuletakkan gelas minuman kami. Kami makan di tempat tidur. Aku lihat wanita itu tidak hendak menghabiskan makanan di piringnya, aku berinisiatif mengambil dan meletakkan piringnya ke atas meja. Acara TV tidak terlalu menarik tapi aku nikmati sambil makan. Setelah kami semua makan, aku kembali ke tempat tidur. Sambil duduk bersandar ke dinding yang merapat ke tempat tidur, aku nyalakan rokokku dan menghisap dalam-dalam..


“Nama mbak siapa?” tanyaku pelan.

“Ada apa tadi sampai dipukuli mereka?” tanyaku lagi.

Aku lihat wanita itu terbaring menyamping menghadapku. Dia melirikku sesaat. Lalu bangun dan duduk bersandar juga sepertiku.

“Boleh minta rokoknya?” tanyanya.

Dengan sedikit terkejut, aku sodorkan rokok kretekku.

“Mereka bosku dan tukang pukulnya” jawab wanita itu sambil menghembuskan asap rokok.

“Yang mana yang bos, mbak?” tanyaku lagi.

“Yang pegang pisau” jawabnya singkat lalu menghisap rokok dan menghembuskan kuat-kuat seperti menghela nafas.

“Ada apa kog mereka sampai memukuli mbak? Sadis banget. Mbak udah jatuh gitu masih juga dipukuli” tanyaku sambil mengernyitkan dahi. Bagiku sungguh kejam memperlakukan manusia seperti itu.

“Aku kerja untuk mereka. Aku call-girl,” jawabnya sambil menunduk.

“Ceritanya panjang” katanya lagi melanjutkan.

“Aku terjebak hutang kepada bosku itu.


Dia menghendaki aku menuruti semua kemauannya. Semua laki-laki yang telah memesan perempuan melalui dia, aku harus layani. Sebenarnya untuk laki-laki yang aku tolak, makanya dia marah besar, adalah laki-laki yang sangat aku benci. Laki-laki itu yang memperkosaku waktu aku pertama kali kerja dengan bosku ini. Aku tidak pernah lagi menerima uang bookingan karena bosku itu yang mengambil semua. Aku terjerat hutang dan aku gak bisa keluar dari lilitan hutangku itu” ceritanya sambil menunduk.


Aku masih belum tahu namanya. Aku lihat airmata menetes ke pakaian yang dikenakannya. Dia bercerita sambil menangis. Tapi ia menahan suara tangisannya. Lalu dihisapnya lagi rokoknya dalam-dalam. Dihembuskan sambil menyeka airmatanya yang jatuh. Aku benar-benar iba dengan keadaannya. Tak kusangka cerita hidup seperti ini masih ada di alam nyata. Bukan hanya di dalam film.


“Tapi kenapa bos mbak sampe segitu tega mukuli mbak?” tanyaku penasaran.

“Aku menolak bookingan yang kemarin dia perintahkan karena aku belum pernah sama sekali memegang uang bookinganku.


Lagipula aku sangat membenci laki-laki yang aku harus layani. Bosku bilang aku masih terikat hutang. Aku tanyakan sampai kapan hutangku lunas sementara uang bookinganku dia yang ambil semua. Dia marah besar karena selama ini tidak pernah ada cewek yang berani membantah apalagi mendebatnya” lanjutnya lagi mulai sesenggukan. Bahunya terguncang hebat karena tangisan. Mungkin ia sudah tak sanggup lagi menahan beban yang sedang dihadapinya.

Aku duduk mendekatinya. Aku rangkul bahunya, aku elus. Aku dapat memahami kesakitan yang sedang dirasakannnya.


“Untung ada kamu. Mungkin aku bisa mati tadi. Atau aku mungkin cacat atau terluka parah” katanya sesenggukan.


Dijatuhkannya kepala ke bahuku. Aku elus-elus bahunya sambil mendengarkan. Hatiku terasa panas karena perlakuan yang kejam dari bosnya tapi aku juga sedih dengan nasibnya.


“Kamu jago berkelahi” Ratih tiba-tiba mengangkat kepalanya menatapku dengan mata yang berlinang.

“Aku gak takut lagi selama ada kamu” lanjutnya.

“Aku benar-benar gak tega membiarkan mbak dipukuli ramai-ramai seperti itu. Kejam tapi pengecut” tukasku.

“Rencana mbak selanjutnya apa?” tanyaku pelan.

“Aku belum tahu” jawabnya menundukkan kepala.

“Mbak mau tidur sekarang?” tanyaku.

“Besok kita lanjutkan ya?” saranku. Kami sejenak terdiam.

“Aku ikut kamu aja?” tiba-tiba kepalanya diangkat sambil menatapku.


Dari kedua matanya aku lihat airmata masih mengalir. Wajahnya basah oleh airmata. Ada harapan yang besar terpancar dari kedua mata yang basah itu sewaktu menatapku. Aku pikir dia mungkin jadi bebanku nanti. Atau mungkin dia sendiri sebenarnya bisa jadi teman yang mengurusku di Denpasar. Aku bingung sesaat. Tidak kujawab pertanyaannya. Aku hanya menatap tajam matanya, menumbus ke dalam relung hatinya.


“Kita lihat besok aja ya? Mbak mesti tidur. Besok sebelum pukul 12 siang kita sudah harus berangkat dari sini. Kita harus naik pesawat. Berbahaya kalau kita ke terminal lagi” kataku.

“Emangnya kamu tinggal dimana?” tanyanya lagi dengan heran. Mungkin karena aku bilang naik pesawat tadi.

“Aku bukan dari kota ini, mbak” jawabku.


“Aku udah lap kaki mbak. Lihat tuh udah bersih kaki mbak kan? Tidurlah sekarang ya” saranku dengan lemah lembut. Sambil mengangkat kedua kakinya ke atas tempat tidur. Lalu dengan pelan aku gendong dan aku letakkan di tengah tempat tidur. Kuambil satu bantal, aku letakkan di kakinya.

“Terimakasih. Kamu baik sekali” ia tersenyum manis sambil berbaring. Tangannya dilipat di atas dada.


Untuk pertama kali, aku melihat wajahnya yang memang ternyata sangat cantik. Aku mau katakan isi hatiku tapi tertahan karena keadaannya yang sedang shock berat. Lalu aku berbaring di sampingnya. Sejak kemarin malam aku belum tidur sama sekali. Semua bagian tubuhku terasa pegal. Otot-ototnya terasa kaku dan keras. Apalagi tadi di terminal akku sempat mengerahkan tenaga dalamku. Tak terasa mataku pelan-pelan tertutup.


Saat terbangun, aku langsung teringat dengan wanita yang aku tolong tadi malam. Kulihat di sampingku ternyata tidak ada. Kuperhatikan sekeliling kamar. Tidak ada orang lain selain aku. Tapi sayup-sayup aku dengar suara dari dalam kamar mandi. Oh ternyata dia di kamar mandi, pikirku.

Aku bangun dari tempat tidur, kulihat gelasku dan kutuang air lalu kuminum. Segar…


Aku berjalan ke arah TV, aku nyalakan dan sambil merokok, aku duduk nonton. Sambil nunggu si mbak selesai mandi pikirku. Aku lihat barang-barangku masih di dalam ransel yang aku bawa. Nanti check-out tinggal berangkat pikirku. Aku periksa uang dan kartu kreditku di dompet. Cukup untuk sampai ke airport dan bayar tiket pesawat , gumamku. Aku memalingkan wajah ke arah kamar mandi. Dan woow… ternyata pintu kamar mandi terbuka. Aku lihat sesosok wanita telanjang sedang berdiri mandi di bawah shower yang mengucur membasahi tubuhnya. Aku terpana tanpa sanggup berbicara apa-apa. Tapi aku juga tak sanggup mengalihkan pandanganku ke arah lain. Terlalu indah untuk aku lewatkan pemandangan di dalam kamar mandi itu.


Tak kusadari, aku berdiri, melepas pakaianku berjalan ke arah kamar mandi. Si mbak tersenyum melihatku yang berjalan telanjang ke dalam kamar mandi. Sambil tetap berdiri di bawah siraman air dengan kaki kanannya disilangkan ke kaki kiri. Bulatan buah dadanya yang putih terlihat bersinar bersama air yang jatuh mengalir dari rambutnya. Buah dada yang bulat dengan puting merah kecoklatan di tengah-tengah. Belahan dadanya yang bulat begitu sempurna memisahkan bulatan buah dada kanan dan kiri.


Air jatuh mengguyur, membasahi tubuh telanjangnya, mengalir ke sela pahanya yang dihiasi bulu-bulu tipis. Bulu-bulu tipis basah membentuk lekuk-lekuk sela pahanya yang indah. Rapi tertata. Bulatan pinggul yang putih terang benderang ditimpa cahaya lampu kamar mandi dan guyuran air yang jatuh mengalir di tubuhnnya. Mulai dari pinggul sampai ke betis, aku nikmati bentuk tubuh indah yang sedang telanjang mandi di hadapanku.


Sejenak aku berhenti di depan pintu kamar mandi. Aku nikmati lagi pemandangan itu. Aku hendak memanjakan mataku. Otot daging di sela pahaku perlahan-lahan mengeras. Batang kejantananku berdiri gagah dengan urat-urat yang menghiasi sekelilingnya. Batang kejantananku berdiri keras tanpa terhalangi oleh bulu satupun. Aku biasa mencukur bersih bulu di sekitar sela paha dan batang kejantananku. Mulai dari sela pantat hingga ke sekeliling batang kejantananku.


“Namaku Ratih” katanya sambil tersenyum. Matanya memandangi batang kejantananku yang keras berdiri gagah. Di bawah guyuran air yang jatuh membasahinya, aku lihat wajahnya begitu berseri-seri. Tersenyum manis, bibir bawah digigit dan tangan disilangkan di dada. Ada rona bahagia di matanya. Sangat berbeda dengan sorot mata yang aku lihat tadi malam.

“Namaku Surya” kataku kemudian.


“Gede panjang, mas” katanya malu-malu melirik ke batang kejantananku yang tegak berdiri keras di selangkanganku. Kepala batang kejantananku yang berdiri hampir menyentuh pusarku. Terlihat sekali kebahagiaan di wajah Ratih. Kedua tangannya terkembang melambai ke arahku yang berdiri di depan pintu kamar mandi. Mempersilahkan aku masuk dan ikut mandi bersama dia.


“Bersih gak ada bulu lagi” katanya menatapku sambil memegang batang kejantananku sesaat aku sudah di depannya. Tangannya meremas dengan gemas. Dikocok-kocok dan diremas-remas lagi. Sambil mendongakkan kepala menatapku, bibir indahnya tersenyum. Aku dekati bibirnya, kedua tanganku melingkari pinggulnya, meremas pantatnya. Dengan menundukkan kepala, aku lumat bibirnya, aku kecup, aku hisap kedua bibirnya. Lidah kujulur-julurkan di dalam mulut mencari lidahnya. Lalu lidahku menggesek-gesek lidahnya. Aku hisap lidahnya sambil aku emut bibirnya.

Ratih, aku akhirnya memanggilnya seperti itu, membalas dengan menjulurkan juga lidahnnya di dalam mulutku. Tangannya meremas dan mengocok-ngocok batang kejantananku dengan gemas. Kepalanya didongakkan ke arahku menikmati ciuman bibir yang kami lakukan sambil berdiri.

“Oooohhh… maasss…” desahnya setelah melepaskan ciuman di mulutku.


Aku yang sudah basah terguyur air yang tercurah dari shower, melanjutkan ciumanku di pipi, telinga dan telinganya. Aku gesek-gesek lekukan di bagian dalam telinganya dengan ujung lidahku.

“Oooooohhhh… maaasss…” Ratih semakin mendesah. Kali ini ia mendesah dengan keras. Kocokan tangannya di batang kejantananku semakin cepat. Satu tangannya lagi melingkar ke belakang memeluk punggungku. Pantatnya bergerak berputar. Sesekali dimaju-mundurkan.


“Oooohhhhhhhhhh…maaaassss… Enak bangeeeeet…” Ratih merintih dan melenguh. Ia menyandarkan kepalanya ke dadaku. Lalu menengadah. Kelihatan Ratih sangat menikmati remasan tanganku di pantatnya dan gesekan lidahku di telinganya yang berpindah ke lehernya yang jenjang putih bersih. Tangannya berhenti mengocok batang kejantananku tiap mendesah. Berganti dengan remasan yang kuat menahan kenikmatan sambil memaju-mundurkan pantatnya.


Sambil lebih menunduk, aku teruskan jilatan lidahku, turun ke sekitar leher dan dadanya yang putih bersih. Aku jilat sambil sesekali gigit dengan lembut kedua bulatan dadanya. Aku jilatin pangkal buah dadanya memutar ke atas dan turun lagi ke bawah. Di bagian tengah belahan bulatan dadanya, aku jilat naik-turun. Aku gigit-gigit kecil sambil jilat.


Lalu lidahku mulai menjilati sekitar puting buah dadanya tanpa menghisap. Sengaja aku tekan-tekan putingnya dengan lidahku. Aku gesek-gesek bagian tengah putingnya dengan menekan lidahku. Aku hisap dan aku gesek-gesek pelan dengan gigiku. Ratih mencengkeram punggungku dengan kuat. Pegangan tangannya dipererat. Tangannya yang berada di punggungkku sedikit menarikku ke bawah. Ke arah buah dadanya. Terkadang aku hisap putting buah dadanya sedikit kencang. Sambil aku tekan-tekan dan gesek-gesek dengan lidahku.


“Oooooohhh… Enak banget, maaass…” Ratih mengangkat satu kakinya menjepit pinggangku merapat ke tubuhnya. Tangannya yang meremas batang kejantananku sejenak berhenti. Desahannya semakin menjadi-jadi.


Air yang mengguyur tubuh kami berdua menambah kemesraan kami bercinta. Ratih mundur mendekati dinding dan bersandar menahan tubuhnya agar tetap berdiri. Sambil bersandar, tangannya mendorong tubuhku turun ke bawah. Aku mengerti, jongkok di depannya dan aku angkat satu kaki Ratih. Kuletakkan di bahuku. Tanganku bisa bebas mengelus pahanya dan meremas bulatan bongkahan pantatnya.


“Maassss… Jilatin, mass…” rintihnya sambil menutup mata. Aku melihat ke atas. Ekspresi wajah yang sangat menambah rangsangan buatku. Ratih menengadahkan kepalanya sambil bersandar di dinding. Kedua tangannya menekan kepalaku yang diarahkan ke selangkangannya. Air yang mengguyur tak kami hiraukan.


Aku mulai menjelajahi pinggul bulatnya. Dari samping lidahku bergerak ke arah perut. Aku tekan-tekan lidahku di sekitar pusarnya. Aku jilat dan aku gigit-gigit pelan kulit perutnya. Lalu lidahku bergerak terus ke arah lipatan pahanya. Lidahku tetap menggesek-gesek sela pahanya. Dengan gerakan naik-turun, aku jilati setiap inchi dengan lembut. Lalu daerah sekitar belahan liang kewanitaannya yang ditumbuhi bulu-bulu pendek yang halus aku gigit-gigit pelan sambil lidahku menjelajahi sekellilingnya. Dari sekitar bulu-bulu itu, lidahku mulai turun ke bawah ke arah belahan liang kewanitaannya. Di bagian atas liang kewanitaannya, lidahku sengaja menekan sambil menggigit-gigit kecil daging kecil yang menonjol keluar.


“Ooooooohhh… Enak bangeeeeeet… Hisap, massss…” Ratih menjerit sewaktu lidahku menggesek-gesek daging kecil di atas belahan liang kewanitaannya itu. Lidahku gesek-gesek lebih cepat sambil kutekan-tekan lebih dalam. Aku turuti kemauan Ratih. Aku hisap kuat-kuat daging kecil itu. Ratih menekan kepalaku lebih dalam ke selangkangannya sambil memajukan pantatnya. Wajahku terbenam di sela pahanya. Lidahku terasa menyentuh cairan kental di belahan liang kewanitaannya. Aku jilat lalu kutelan. Dia orgasme, pikirku.


Aku berdiri. Aku cium bibirnya lama dan dalam. Tanganku meremas bongkahan pantatnya yang bulat. Kulihat matanya yang meredup. Wajah pasrah. Aku cium pipinya sambil kuangkat satu kakinya. Ratih mengerti dengan tindakanku. Kedua tangannya langsung memeluk leherku. Setelah satu kakinya terangkat, aku angkat kakinya yang satu lagi. Sekarang Ratih berada dalam gendonganku. Kedua kakinya aku tahan di tanganku.


“Masukin, sayang” pintaku.


Satu tangan Ratih bergerak ke bawah pantatnya, mencari batang kejantananku, memasukkannya ke dalam belahan liang kewanitaannya yang hangat. Lalu aku pelan-pelan tekan batang kejantananku ke atas. Sambil memeluk leherku, Ratih mendekapkan wajahnya ke leherku sambil mendesah panjang.


“Oooooohhhh, maaasssss…” rintihnya menikmati gesekan batang kejantananku yang memasuki lliang kewanitaannya dari bawah.

“Ooooohhhh…” aku mendesah merasakan jepitan dan remasan otot-otot liang kewanitaannya.


Batang kejantananku bertambah keras. Aku rasakan kepalanya dijepit dengan kencang. Perlahan-lahan aku kocok-kocok liang kewanitaan Ratih dari bawah. Sambil menggendong tubuhnya, aku angkat-angkat. Aku berdiri sedikit mengangkang agar pijakan kakiku cukup kuat menahan berat tubuhnya. Tapi tubuh Ratih ramping. Sementara tinggi tubuh Ratih sendiri kira-kira sebahuku. Pstur tubuh yang ideal untuk posisi bercinta seperti ini.


Bulatan buah dada Ratih tergesek-gesek di dadaku yang menambah rangsangan tersendiri untuk kami berdua. Tak tahan dengan aliran kenikmatan yang dirasakannya, Ratih menciumi bibirku dengan rakusnya. Bibirku dihisap dan diemut dengan lahap. Ratih mengencangkan pelukan tangannya di leherku.


“Ooooohhh… Enak banget, masss..” desahnya berulang-ulang..


Guyuran air yang jatuh membasahi terus tubuh kami, terasa bagaikan pendingin dan penyejuk yang menguatkan aku untuk bertahan dengan posisi bercinta seperti ini. Pantatku terus bergerak naik-turun mengocok-ngocokkan batang kejantananku ke dalam loiang kewanitaan Ratih dari bawah.


“Ooooohhh… Capek, mas?” tanyanya tiba-tiba.

“Kita ke tempat tidur aja ya?” sarannya kemudian.


Lalu aku turunkan tubuhnya, kami basuh tubuh kami dengan shower dan bergegas ke tempat tidur. Sambil tersenyum, Ratih menggenggam batang kejantananku, menarikku mengikutinya ke arah tempat tidur. Aku bawa handuk dan kubentangkan sebagai alas di tempat tidur. Ratih langsung berbaring. Aku ambil bantal dua-duanya dan aku alaskan untuk sandaran kepalanya. Sambil mengangkang, Ratih menarik batang kejantananku. Aku memposisikan tubuh di depannya dengan sedikit berjinjit lalu Ratih mengarahkan batang kejantananku ke dalam liang kewanitaannya.


Dengan bersandar, Ratih dapat melihat batang kejantananku keluar-masuk dengan cepat, mengocok-ngocok liang kewanitaannya. Kedua tangannya memegang pinggulku dengan kencang. Aku mulai gerakkan pantatku maju-mundur. Dengan berjinjit seperti itu, aku dapat memasukkan batang kejantananku lebih dalam. Aku letakkan kedua kaki Ratih di pahaku. Lalu aku dekatkan tubuhku ke arahnya. Sambil mengocok-ngocokkan batang kejantananku, aku lumat bibirnya. Aku gesek-gesek lidahnya dengan lidahku. Aku hisap dan aku gesek-gesek lagi. Ratih memutar-mutarkan pantatnya dengan cepat mengikuti kocokan batang kejantananku.


“Ooooouuuugghhh, masss…” Ratih melepaskan ciumanku lalu mendesah kencang. Aku lihat wajahnya. Matanya terpejam menikmati percintaan kami.

“Ooooooohh… Oooooooohhhh…” desahnya berulang-ulang.

“Aku keluar… Aku keluar, maaass…” desahnya lagi.

“Oooooohhh… Aku keluar, maaaassss….” Ratih mengangkat pantatnya sambil menekan pantatku ke bawah.


Kuat sekali ia menjepitkan selangkangan kami bersatu. Aku tekan batang kejantananku dalam-dalam di liang kewanitaannya. Terasa liang kewanitaannya berdenyut-denyut. Batang kejantananku diremas dengan kuat tiap Ratih mengangkatkan pantatnya sambil menjepitkan kakinya di pinggangku.


“Enak, sayang?” tanyaku sambil mencium kelopak matanya.

“Enak banget, sayang… “ jawabnya pelan sambil tersenyum manis. Aku tersenyum. Hatiku berbunga-bunga mendengar sapaan “sayang” yang diucapkan Ratih.


“Aku terusin ya sayang?” tanyaku sambil mulai menggoyangkan pantatku lagi. Aku mulai memaju-mundurkan pantatku. Sekarang aku kocokkan batang kejantananku lebih cepat. Ratih kembali mengencangkan jepitan kakinya di pinggangku. Tangannya mencengkeram pantatku. Sambil mellihat ke arah liang kewanitaannya yang sedang dikocok-kocok dengan cepat, Ratih sesekali melihat ke arahku. Digigitnya bibir bawah sambil memejamkan mata. Lalu melihat ke arah selangkangannnya lagi. Bergantian ke wajahku. Dahinya yang mengernyit menahan kenikmatan menambah semangatku untuk mengejar orgasme sekali lagi untuk Ratih. Aku dekati bibirnya, aku lumat sambil aku arahkan batang kejantananku mengocok lebih dalam. Ratih membalas dengan hisapan yang dalam di bibirku. Tangannya yang mencengkeram pantatku tiba-tiba menekan lebih keras. Dilepaskannya ciumanku dan berteriak.


“Aaaaaaahhhh, sayaaaaang… Ooooooohhhh, sayaaaaaang…” teriaknya sambil memejamkan mata.

Aku semakin mempercepat kocokan batang kejantananku. Aku angkat badanku sehingga batang kejantananku masuk lurus ke dalam belahan liang kewanitaannya. Lalu tanganku kuletakkan di sela kakinya untuk menahan kangkangannya semakin lebar. Dengan pantatnya yang terangkat seperti itu, batang kejantananku terasa begitu dijepit. Terasa lebih nikmat kocokan yang aku lakukan. Hingga akhirnya aku rasakan denyutan di ujung batang kejantananku. Ditambah dengan remasan liang kewanitaan Ratih yang semakin mengurut dengan erat, aku tak dapat menahan lagi dorongan semburan dari batang kejantananku.


“Ooooougggghhh… Aku mau keluar, sayaaang…” kataku tertahan.

Ratih memandangku dengan mempererat cengkeraman tangannya di pantatku. Dilepaskan kakinya yang menjepit pinggangku. Gantinya ia mengangkat-angkat pantatnya sambil memutar-mutar pinggulnya dengan cepat.


“Ooooohhhh sayaaang… Ayo sayaaang…” desahnya memberiku semangat. Hingga akhirnya…

“Aaaaarggggghhhh… Sayaaaaaaaang… “ aku menjatuhkan tubuhku ke tubuh Ratih. Sambil siku tanganku menahan berat tubuhku, aku tekan pantatku dalam-dalam. Batang kejantananku menyemburkan sperma dengan derasnya di dalam liang kewanitaan Ratih. Pantatku menekan berulang-ulang mengikuti denyutan di batang kejantananku. Selangkangan kami bersatu erat. Lalu sambil mengangkat pantatnya, Ratih menjerit lagi.

“Aaaaaaaahhhhh… Aku keluar, sayaaaang…” jerit Ratih sambil menekan pantatku dan mengangkat pantatnya.


Kami terdiam. Nafas kami tidak beraturan. Sambil menahan tubuhku dengan siku lenganku, aku baringkan kepalaku di dada Ratih. Kuciumi dadanya sambil memperbaiki nafasku. Satu tangan Ratih mengelus-elus punggungku. Satu tangan yang lain mengelus pantatku. Kedua kakinya menjepit kakiku. Ditimpakan mengapit kedua kakiku dengan erat.


“Suka, sayang?” tanyaku. Aku cium kelopak matanya, hidungnya dan bibirnya.

“Suka, sayang. Kamu kuat banget… Aku keluar tiga kali, sayang” jawab Ratih sambil membalas mencium pipiku.


“Kita beres-beres sekarang?” tanyaku lagi. Aku tersenyum karena aku tahu Ratih pasti capek banget.

“Kita naik apa ke airport, sayang?” Ratih balik bertanya.

“Nanti minta resepsionis cariin taksi aja. Kita naik pesawat biar lebih aman. Bos kamu sama anak buahnya mungkin dari tadi malam udah bergerak nyari kita” jawabku.

“Ayo, kita beres-beres…!” tiba-tiba Ratih bergerak untuk bangun. Aku yang masih di atas tubuhnya langsung bangun.

“Kamu gak capek?” tanyaku heran.

“Capek tapi nanti di taksi kan bisa tidur” jawabnya cepat sambil berjalan ke arah kamar mandi.


Di kamar mandi dia bersih-bersih lalu keluar masih dengan tubuh telanjang. Gantian aku yang ke kamar mandi dan membersihkan tubuhku. Kami beres-beres kamar sebentar.


“Kamu mau pakai kemejaku, sayang?” tanyaku.

“Lebih baik pake kemejaku, sayang. Bersih lagian biar orang lain gak terlalu kenal kamu” kataku menerangkan. Ratih berpikir sebentar.

“Iya deh. Pakaian itu juga udah kotor” jawabnya.

“Terpaksa gak pake CD sama BH, sayang” katanya sambil tertawa.

“Kamu pake jaketku biar gak kentara dadanya, sayang” saranku.


Aku keluarkan kemejaku dan kuberikan ke Ratih untuk dipakainya. Aku ambil juga celana pendekku lalu aku berikan ke dia.

Selesai berpakaian, Ratih bergegas menyisir rambutnya. Dengan kemeja kotak-kotak biru lengan panjang, Ratih terlihat sangat cantik. Rambutnya yang hitam sebahu menambah pesona wajahnya. Lebam di dahi, luka di pipi rahang kiri dan luka di bibirnya tidak mengurangi kecantikan alaminya. Pantes aja bosnya tergila-gila dengan perempuan ini, pikirku. BERSAMBUNG ke Rasa Ibaku Kepada Wanita Yang Terlilit Hutang Berbuah Kenikmatan 2 - Cerita Seks Terbaru, Cerita Dewasa Hot, Cerita Mesum Seru
itil management solution itil v3